With the surge in interest in entrepreneurship, many colleges and universities are starting to offer such programs as part of their curriculum. Indeed, I was privileged to be invited a couple of months back to give a talk in a renowned university in the Philippines that had such a program.

I was asked to share my life experiences with the students. What I found more fascinating, however, was the kind of program the students were going through. Each was tasked to set up a business at the start of school year, and by the end of it be able to show that it had earned a target profit. There were professors that served as mentors that helped to fine-tune their business plans and they were expected to write reports detailing their experiences during the course of running their business.

During the course of my conversation with these students, I gathered that the program wasn’t working that well for most of them. For starters, their businesses weren’t the only thing that they were being graded on. They had traditional classes to take and exams to study for. Second, many of them created businesses not so much of their own competitive advantage or passion but rather based on convenience or family resources.

Finally, majorities were steeped in traditional forms: selling clothes, operating a single taxi franchise or marketing gadgets. There wasn’t much creativity involved in wanting to disrupt existing business models or to think out of the box. For most of the students, they were out there to fulfill their credits and to graduate. They were not that interested in their businesses — it was just part of their education.

One student stood out though. She was interested in fashion and she had a great eye for what the market wanted. She designed clothes that she enjoyed wearing, and she sold them in places that she would frequent herself. It was of no coincidence that her business was one of the very few that were thriving. She had passion in what she was doing and it showed.

This observation made me realize that not everyone is cut out to be an entrepreneur. Cookie cutter programs such as these do not automatically guarantee that everyone who graduates would have a profitable business to run. However, understanding the dynamics of putting together a business and running one, even if it isn’t successful, is a great experience. It helps to widen your horizon and to make you see things from a business owner’s viewpoint and not just a nine-to-five employee, something any employer would appreciate.

True entrepreneurs, however, are a very special breed of people. They show tremendous initiative, are natural risk takers and exhibit leadership qualities that enable them to combine resources and management skills to create something out of nothing. Passion, ambition and drive are a given — starting a business is never easy, and you will have days in which you want to give up-so staying true to your target is critical.

There is also the ability to troubleshoot and problem solve. Entrepreneurs will face problems most, if not all the time. It is how you deal with it that makes the difference. After all, success in any venture is not shrouded in secrecy. All it requires is dedication, persistence and constant evolution thorough learning, much like getting good in a sport or growing a hobby. It is also about your averages. Make more good decisions than bad and the business will thrive. Do the opposite and don’t be surprised to have it close on you.

That’s why I think that the best means towards learning entrepreneurship is through immersive entrepreneurship. While there are formal courses that can teach you the fundamentals of starting a business, writing a business plan or pitching ideas to investors, there is nothing like getting your hands dirty and trying things out for the first time. If you’re going into your first business, treat is as a hobby, not as a chore, and enjoy the journey with its ups and downs. Expectations should be managed in line with your risk appetite. All you need are the guts, the focus and an opportunity. After all, the world of entrepreneurship is one governed by only rule: I do whatever I want because I can, and I can because I want to.

Terjemahan:

Dengan meningkatnya minat pada kewirausahaan, banyak universitas mulai menawarkan program kewirausahaan sebagai bagian dari kurikulumnya. Sungguh suatu kehormatan bagi saya karena sudah diundang untuk memberikan ceramah di universitas yang cukup terkenal di Filipina yang mempunyai program tersebut.

Saya diminta untuk berbagi pengalaman kepada para mahasiswa di sana. Apa yang saya temukan amatlah menarik. Mahasiswa – mahasiswa ini ternyata sudah diajarkan program tersebut sejak dini. Mereka ditugaskan untuk menciptakan bisnis di awal tahun ajaran dan menunjukkan hasilnya (berlaba/merugi) di akhir tahun ajaran. Tiap mahasiswa didampingi dosen pembimbing untuk membantu mereka dalam mengerjakan rencana bisnis, dan diminta untuk menulis laporan secara rinci selama mereka menjalankan bisnis tersebut.

Selama prosesi ceramah, saya menyimpulkan bahwa program tersebut tidak berjalan dengan baik bagi sebagian besar dari mereka. Penilaian tidak hanya diterima berdasarkan program bisnis yang diberikan oleh kampus, tetapi juga ujian – ujian. Selain itu, banyak dari mereka yang kurang bersungguh – sungguh dalam menjalankan tugas bisnis tersebut, dan hanya mengandalkan sumber daya dari keluarganya.

Kebanyakan mahasiswa tidak mempunyai keberanian atau malas untuk keluar dari zona nyaman mereka dan berpikir ‘out of the box’, hanya menjalankan bisnis yang sudah terlalu umum seperti menjual baju, peralatan elektronik, dll. Mahasiswa – mahasiswa ini menjalankan kuliah hanya untuk formalitas dan menjalankan perintah dari orang tua. Mereka tidak terlalu bersemangat dalam menjalankan bisnisnya.

Meski demikian, ada satu mahasiswi yang menarik perhatian saya. Dia mempunyai ketertarikan pada bidang tata busana dan amat faham dengan selera pasar. Mahasiswi ini mendesain pakaiannya sendiri dan menjualnya di tempat – tempat yang sering dia kunjungi. Program bisnis yang dia jalani -bersama dengan sedikit mahasiswa yang lain- termasuk yang berkembang di sana. Dia telah menjalankan bisnisnya dengan ‘passion’.

Proses observasi tersebut menyadarkan saya bahwa tidak semua orang memiliki jiwa kewirausahaan. Program yang diberikan kampus tersebut tidak serta merta menjamin bahwa semua lulusan akan menjadi pengusaha yang cakap. Akan tetapi, program bisnis –meski banyak yang hasilnya kurang memuaskan- ini telah memberikan pengalaman yang baik bagi tiap mahasiwa yang menjalankannya. Hal ini membantu dalam memperluas cakrawala mereka dan melihat hal – hal dari sudut pandang wirausahawan.

Wirausahawan sejati, bagaimanapun juga, adalah jenis manusia yang istimewa. Mereka adalah para pengambil resiko dengan inisiatif yang besar dan memiliki sifat kepemimpinan yang membuat mereka mampu untuk mengumpulkan segala sumber daya yang ada. Menjalankan sebuah bisnis bukanlah sesuatu yang mudah. Ada masanya di mana anda akan putus asa dan menyerah. Tetap berpegang teguh pada tujuan pertama anda, dalam menjalankan bisnis tersebut, adalah kuncinya.

Selain itu, wirausawan juga memiliki kemampuan lebih dalam memecahkan masalah. Menjadi wirausahawan berarti harus siap untuk menghadapi banyak tantangan. Kecakapannya dapat dilihat dari bagaimana cara dia menghadapi itu semua.

Kesuksesan membutuhkan dedikasi, ketekunan, dan keluwesan dalam menghadapi perubahan zaman. Buatlah keputusan yang baik, dan bisnis anda akan berkembang.

Oleh karena itu, saya berpendapat bahwa cara terbaik dalam mempelajari kewirausahaan adalah dengan terjun total ke dalamnya, meski anda bisa saja mempelajarinya seperti cara yang diadakan oleh universitas di mana saya tampil sebagai pembicara. Tidak ada cara yang lebih fundamental selain mempraktekkannya sendiri. Bila anda baru pertama kali membangun bisnis, perlakukanlah seperti itu adalah hobi anda, bukan sebagai kewajiban. Nikmatilah proses “naik” dan “turunnya”. Tingkat kesuksesannya tergantung dari seberapa besar resiko yang anda ambil. Formula untuk sukses adalah keberanian, fokus, dan kesempatan yang harus diambil. Betapapun, dalam dunia kewirausahaan hanya berlaku satu peraturan, yaitu: Saya melakukan apapun yang saya mau karena saya bisa, dan karena saya mau.